Berita Nasional, nasional

Mengejutkan! Kemenkes Gandeng LDII Gerakkan Program Cek Kesehatan Gratis dan Perangi Stunting

Jakarta – Dalam upaya mempercepat peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi menggandeng Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) untuk berpartisipasi aktif dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekaligus mendorong pencegahan stunting di Indonesia.

Ajakan ini disampaikan langsung oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, dr. Lovely Daisy, saat menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) III LDII di Grand Ballroom Minhajurrosyidin, Jakarta, Sabtu (23/8/2025).

Menurut Lovely, program CKG merupakan terobosan besar pemerintah dalam mendeteksi dini berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental, di seluruh kelompok usia masyarakat.

“CKG sudah dilaksanakan secara nasional, hingga saat ini yang mendaftar mencapai 21 juta orang dan yang sudah diperiksa mencapai 20 juta orang,” ungkap Lovely di hadapan 315 peserta Rakornas.

Lovely menjelaskan, terdapat dua bentuk program CKG yang saat ini digalakkan:

1. CKG Ulang Tahun

Ditujukan bagi anak usia 0–6 tahun serta masyarakat usia 18 tahun ke atas.

Diluncurkan pada 10 Februari 2025, program ini dapat diakses melalui Puskesmas, Aplikasi SatuSehat, maupun layanan WhatsApp Kemenkes.

2. CKG Sekolah

Menargetkan 53 juta anak usia sekolah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA (usia 7–17 tahun).

Mulai berjalan sejak Juli 2025, bertepatan dengan awal tahun ajaran baru.

Total peserta yang disasar mencapai 53.844.419 siswa dari 282.317 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan anggaran sebesar Rp3,4 triliun pada 2025 demi kelancaran program kesehatan nasional ini.

Selain mendorong masyarakat untuk aktif mengikuti program CKG, dr. Lovely juga menegaskan bahwa pencegahan stunting menjadi prioritas besar pemerintah. Stunting, menurutnya, bukan sekadar masalah fisik, melainkan ancaman serius terhadap kecerdasan dan produktivitas generasi bangsa di masa depan.

“Seorang anak yang mengalami stunting berisiko menderita penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, hingga gangguan kognitif saat dewasa. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini, terutama dengan memastikan asupan gizi ibu hamil serta pemantauan pertumbuhan balita,” jelasnya.

Langkah deteksi dini, pemenuhan gizi seimbang, dan edukasi kesehatan keluarga dianggap menjadi kunci agar kasus stunting di Indonesia tidak terus meningkat.

Paparan dari Kemenkes ini mendapat respon positif dari peserta Rakornas LDII. Banyak pertanyaan dan diskusi muncul terkait bagaimana implementasi program CKG dan pencegahan stunting bisa dijalankan di komunitas LDII hingga ke tingkat desa.

Di akhir acara, Lovely menyampaikan harapannya agar LDII sebagai ormas Islam yang memiliki basis jamaah besar di seluruh Indonesia dapat menjadi motor penggerak dalam menyukseskan program pemerintah ini.

“Harapan kami, LDII mampu menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan CKG. Untuk stunting, mari bersama fokus pada upaya pencegahan. Jangan sampai menunggu anak sudah stunting, tapi bagaimana agar semakin banyak balita yang sehat dan terhindar dari risiko itu,” pungkasnya.

Kehadiran Kemenkes dalam Rakornas III LDII membuktikan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif. Program CKG dan kampanye anti-stunting diharapkan menjadi gerakan masif yang tidak hanya berbasis kebijakan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat sehari-hari.

Melalui kerjasama dengan LDII, diharapkan edukasi kesehatan dapat lebih luas tersampaikan hingga ke tingkat akar rumput, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan pencegahan stunting sejak dini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *