Berita Nasional, nasional

LDII Ajak Masyarakat Terapkan Gaya Hidup Bersahaja ‘Muzhid Mujhid’ Hadapi Tekanan Ekonomi Global

JAKARTA (15/6) – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), hingga meningkatnya inflasi dalam negeri, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII mengajak masyarakat untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui pola hidup sederhana dan produktif.

Ajakan tersebut disampaikan DPP LDII sebagai respons terhadap berbagai tantangan ekonomi yang saat ini dirasakan masyarakat. Selain mendorong keluarga untuk mencari sumber pendapatan tambahan yang halal, LDII juga mengingatkan pentingnya mengedepankan kepedulian sosial serta menghindari pola konsumsi berlebihan.

Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan bahwa kekuatan ekonomi nasional sesungguhnya berawal dari ketahanan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, keluarga perlu memiliki strategi yang tepat agar mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Menurutnya, salah satu prinsip yang relevan diterapkan saat ini adalah konsep muzhid mujhid, sebuah nilai yang mengajarkan keseimbangan antara hidup sederhana dan semangat bekerja keras.

“Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan seperti sekarang, masyarakat perlu kembali menerapkan prinsip muzhid mujhid. Muzhid mengajarkan hidup sederhana, tidak konsumtif, serta mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Sedangkan mujhid berarti bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah yang halal, rajin bekerja, serta terus berusaha meningkatkan produktivitas,” ujar Dody dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (14/6).

Benteng Ketahanan Ekonomi Keluarga

Dody menjelaskan, kombinasi antara pengelolaan pengeluaran yang bijak dan semangat mencari penghasilan tambahan menjadi benteng utama bagi keluarga dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok. Menurutnya, dibandingkan melakukan pembelian secara berlebihan atau terus mengeluhkan keadaan, masyarakat lebih baik memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.

“Ketika kondisi ekonomi sedang sulit, kepedulian sosial menjadi salah satu kekuatan terbesar untuk membantu masyarakat yang terdampak lebih berat. Nilai gotong royong dan saling membantu harus terus dijaga,” katanya.

Ekonom: Prinsip Muzhid Mujhid Relevan untuk Masyarakat dan Pemerintah

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta sekaligus Sekretaris Majelis Pakar DPP LDII, Ardito Bhinadi.

Ia menilai kondisi ekonomi nasional saat ini memang tidak terlepas dari berbagai dinamika global, mulai dari ketidakpastian pasar keuangan dunia, fluktuasi harga energi dan pangan, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Menurut Ardito, situasi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi, memengaruhi harga barang kebutuhan masyarakat, dan menurunkan daya beli.

“Dalam kondisi seperti ini, prinsip muzhid dan mujhid sangat relevan diterapkan secara seimbang. Muzhid berarti hidup hemat, cermat, tidak konsumtif, serta mampu memprioritaskan kebutuhan utama. Sementara mujhid berarti terus bekerja keras, kreatif, meningkatkan keterampilan, dan jeli melihat peluang usaha maupun sumber pendapatan yang halal,” jelasnya.

Pemerintah Juga Perlu Menerapkan Muzhid Mujhid

Ardito menambahkan, konsep tersebut tidak hanya berlaku bagi masyarakat, tetapi juga penting diterapkan dalam tata kelola pemerintahan.

Menurutnya, nilai muzhid dalam pemerintahan dapat diwujudkan melalui pengelolaan anggaran yang hati-hati, efisien, tepat sasaran, dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Pengurangan pemborosan serta fokus pada program prioritas menjadi bagian penting dari prinsip tersebut.

Sedangkan nilai mujhid bagi pemerintah diwujudkan melalui kerja keras dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, memperkuat sektor produktif, memperluas lapangan pekerjaan, mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperkuat ketahanan pangan dan energi.

“Ketahanan ekonomi tidak hanya bergantung pada penghematan masyarakat, tetapi juga membutuhkan kebijakan publik yang efektif, produktif, dan berkeadilan. Masyarakat harus bijak dalam mengelola konsumsi, sementara pemerintah perlu bijak dalam mengelola anggaran dan responsif terhadap berbagai tantangan ekonomi,” ujarnya.

Ardito menegaskan bahwa makna muzhid dan mujhid di era saat ini adalah menjalani kehidupan secara sederhana tanpa kehilangan semangat untuk terus produktif.

“Semua pihak, mulai dari keluarga, pelaku usaha, masyarakat, hingga pemerintah, harus bergerak bersama. Hemat dalam hal yang tidak diperlukan, serius dalam hal yang produktif, serta tetap peduli kepada kelompok masyarakat yang paling terdampak,” tambahnya.

LDII Perkuat UMKM dan Literasi Keuangan Syariah

Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, DPP LDII terus mengoptimalkan pemberdayaan UMKM melalui pengembangan pembiayaan berbasis syariah yang dijalankan melalui Baitul Maal wat Tamwil (BMT) di berbagai daerah.

Melalui program tersebut, para pelaku usaha kecil mendapatkan akses pembiayaan yang lebih mudah, terjangkau, dan sesuai prinsip syariah. Selain itu, LDII juga aktif memberikan edukasi literasi keuangan keluarga berbasis konsep muzhid mujhid melalui berbagai majelis taklim yang tersebar di seluruh Indonesia.

Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat menjadi lebih mandiri, produktif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi, baik yang berasal dari dalam negeri maupun akibat gejolak ekonomi global.

Dengan mengedepankan hidup sederhana, kerja keras, serta kepedulian sosial, LDII meyakini masyarakat Indonesia akan mampu menjaga ketahanan ekonomi keluarga sekaligus memperkuat ketahanan nasional di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *