Sukoharjo Dorong Sorgum Jadi Pangan Masa Depan, LDII Hadirkan Inovasi Olahan Tingkat Jawa Tengah
SUKOHARJO (23/8) – Upaya memperkuat kemandirian pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru terus didorong di Jawa Tengah. Salah satunya melalui pengembangan sorgum sebagai pangan alternatif yang memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi.
Semangat tersebut mengemuka dalam Lomba Olahan Makanan Berbahan Sorgum Antar-DPD LDII se-Jawa Tengah yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Jawa Tengah di kompleks kantor DPD LDII Kabupaten Sukoharjo, Minggu (23/8/2026).
Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistyono, mengatakan pengembangan sorgum penting dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan pangan nasional. Terlebih, ketersediaan lahan pertanian semakin menghadapi berbagai tantangan.
“Minimal pangan itu ya swasembada. Meskipun mungkin dari elektronik, otomotif kita impor, tetapi kalau pangan harus ada kemampuan mandiri,” ujar Singgih.
Menurutnya, sorgum mempunyai peluang besar untuk dikembangkan karena mampu tumbuh di lahan yang relatif kurang produktif. Selain itu, tanaman tersebut memiliki kandungan serat yang tinggi serta mengandung karbohidrat dan protein, dengan kadar gula yang relatif rendah.
Meski demikian, pengembangan sorgum masih menghadapi pekerjaan rumah dari sisi produktivitas. Berdasarkan uji coba di Blora, hasil panen saat ini baru berada di kisaran dua ton per hektare. Padahal, berdasarkan sejumlah referensi, produktivitas sorgum dapat mencapai empat hingga delapan ton per hektare.
“PR kita yang pertama itu bagaimana meningkatkan produktivitas, kemampuan berproduksi dari para petani yang tadinya misalnya dua ton bisa naik menjadi tiga atau empat ton,” katanya.
Singgih menilai peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan penguatan hilirisasi. Petani, pemerintah, pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat perlu membangun ekosistem ekonomi yang membuat sorgum tidak hanya berhenti sebagai komoditas pertanian, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah.
“Ini kalau bisa bersatu saya kira akan menjadi apa yang disebut sebagai social enterprise. Perusahaan yang di situ gabungan antara pemerintah, pengusaha, petani ataupun kelompok masyarakat yang lain,” jelasnya.
Ia menyebut gerakan tersebut sekaligus menjadi bentuk dakwah bil hal, yakni menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat melalui aksi nyata. Karena itu, lomba olahan sorgum diharapkan menjadi pemantik untuk mendorong budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, memberikan apresiasi terhadap langkah LDII yang menggelar kompetisi olahan sorgum. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata untuk menguatkan kemandirian sekaligus memperluas pilihan pangan masyarakat.
“Ini adalah langkah konkret dan juga strategis, dan ini sebuah komitmen dari LDII untuk aktif dalam mengawal kemandirian pangan di daerah,” ungkap Widi.
Ia menegaskan, diversifikasi pangan bukan berarti masyarakat harus meninggalkan beras. Sebaliknya, masyarakat didorong memiliki pilihan pangan yang semakin beragam, bergizi seimbang, aman, dan sesuai dengan potensi lokal.
Tantangan perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino dan La Nina, juga menjadi alasan pentingnya memperkuat alternatif sumber pangan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas pertanian sehingga pengembangan komoditas lokal perlu dilakukan secara konsisten.
Dari sisi pemerintah daerah, Plt. Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo melihat sorgum bukan hanya sebagai alternatif sumber pangan, tetapi juga peluang untuk menggerakkan perekonomian petani dan UMKM.
“Sorgum mendukung pola hidup sehat, kemudian menjadi diversifikasi pangan lokal, dan untuk memberikan ruang tempat bagi bahan-bahan lokal, petani-petani olahan lokal ini biar punya tempat dan juga ekonomi menetes ke bawah,” tuturnya.
Eko menilai karakter tanaman sorgum cukup sesuai untuk dikembangkan di sejumlah lahan tidur yang selama ini terkendala akses irigasi. Sistem perakaran sorgum yang mampu menjangkau sumber air lebih dalam menjadi salah satu pertimbangan untuk mengembangkan tanaman tersebut.
“Ini barangkali cocok, lahan-lahan tidur yang belum bisa tersentuh irigasi dan memang sulit untuk dikembangkan irigasinya. Di sana akan cocok untuk pengembangan tanaman sorgum,” ujarnya.
Pemkab Sukoharjo selanjutnya akan mendorong Dinas Pertanian untuk menghubungkan potensi budidaya sorgum dengan petani lokal. Peningkatan produksi diharapkan dapat memperluas areal tanam sekaligus menciptakan harga komoditas yang semakin kompetitif.
Ketua Panitia, Okha Ferdiyan Putra, menjelaskan lomba tersebut merupakan bagian dari program kerja DPW LDII Jawa Tengah untuk memperkenalkan sorgum sebagai salah satu pilihan pangan alternatif berbasis potensi lokal.
Mengusung tema “Inovasi Pangan Lokal Berbasis Sorgum untuk Ketahanan Pangan, Kemandirian Ekonomi, dan Gaya Hidup Sehat”, kegiatan diikuti oleh 22 DPD LDII se-Jawa Tengah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong dan mengenalkan sorgum sebagai salah satu opsi pangan alternatif lokal yang kaya akan nutrisi. Kemudian juga mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan nasional dan diversifikasi pangan,” kata Okha.
Beragam kreasi pangan ditampilkan peserta, mulai dari roti, mi, cendol, hingga berbagai produk olahan lainnya. Kreativitas tersebut menunjukkan bahwa sorgum memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi makanan yang lebih dekat dengan selera masyarakat.
Okha berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kompetisi sesaat. Menurutnya, lomba harus menjadi awal lahirnya inovasi yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan sehat sekaligus bernilai ekonomi.
“Besar harapan kami kegiatan ini tidak berhenti sebatas ajang kompetisi saja. Semoga momen ini bisa menjadi titik awal berkembangnya inovasi olahan sorgum yang sehat, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan dapat diimplementasikan secara nyata oleh masyarakat luas,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku UMKM, pengusaha, dan masyarakat, sorgum diharapkan tidak sekadar menjadi pangan alternatif, tetapi berkembang menjadi komoditas strategis yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka sumber ekonomi baru bagi masyarakat Jawa Tengah. (bay)
